Musim panen jengkol telah tiba. Ya, bulan September hingga Desember merupakan saat di mana para petani dan juragan jengkol berpanen ria. Memang, dari sisi harga, saat panen adalah saat kurang menguntungkan bagi petani jengkol karena jengkol melimpah dan harga pun menurun tajam, jauh lebih rendah daripada harga jengkol di luar musim panen. Lagi pula, yang menikmati harga tinggi biasanya para pedagang di pasar. Meski demikian, petani tetap saja bisa mensyukuri bahwa jengkol bisa mendatangkan uang untuk keluarga.

Terdapat tiga pasar yang jumlah penjualan jengkolnya tinggi, yakni Pasar Induk Caringin Bandung, Pasar Induk Cibitung Bekasi, dan Pasar Induk Kramat Jati Jakarta. Orang Jawa Barat, yang terkenal penyuka lalapan, tingkat konsumsi jengkol tertinggi di Indonesia. Meski demikian, tak hanya orang Jawa Barat yang identik dengan jengkol. Beberapa etnis di Indonesia juga dikenal penyuka jengkol, bahkan jengkol sebenarnya juga digemari penduduk di sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, seperti di Malaysia dan Thailand.

Asal-usul tanaman jengkol tidak diketahui dengan pasti. Di Sumatera, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, tanaman jengkol banyak ditanam di kebun atau pekarangan secara sederhana. Di Indonesia, jengkol atau jering disebut dengan banyak nama, yaitu jengkol (Jawa), jaring (Sumatera), jaawi (Lampung), kicaang atau jengkol (Sunda), lubi (Sulawesi Utara), dan blandingan (Bali). Dalam klasifikasi ilmiah, tanaman jengkol termasuk dalam filum Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Fabales, famili Fabaceae, subsuku Mimosoideae, genus Pithecellobium, dan spesies Pithecellobium lobatum atau Pithecellobium jiringa.

Tanaman jengkol berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 10-26 meter. Buahnya berupa polong berbentuk gepeng dan berbelit. Warna buahnya lembayung tua. Setelah tua, bentuk polong buahnya menjadi cembung dan di tempat yang mengandung biji ukurannya membesar. Tiap polong dapat berisi 5-7 biji. Bijinya berkulit ari tipis dan berwarna cokelat mengilap.

Biji ini, terutama yang sudah tua, merupakan bagian tanaman yang paling penting dan paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. Jengkol diketahui dapat mencegah diabetes dan bersifat diuretik serta baik untuk kesehatan jantung. Tanaman jengkol diperkirakan juga mempunyai kemampuan menyerap air tanah yang tinggi sehingga bermanfaat dalam konservasi air di suatu tempat.

Biji jengkol biasa dimakan segar atau diolah dengan bumbu semur, dan dikenal oleh orang Sunda sebagai ati maung atau “hati macan”. Bijinya lunak dan empuk. Tekstur inilah yang membuatnya disukai. Aromanya agak menyerupai petai, tetapi lebih lemah. Namun demikian, tidak demikian bila sudah dibuang dari urin. Selain disemur, biji jengkol juga dapat dibuat menjadi keripik seperti halnya emping dari melinjo, dengan cara ditumbuk hingga pipih, dikeringkan, dan digoreng dengan minyak panas.

Pangan kontroversial

Meskipun bau dan dianggap makanan kurang gaul, jangan meremehkan jengkol. Selain sangat kaya akan vitamin C, ternyata kandungan proteinnya lebih tinggi dari tempe. Jengkol pun diperlukan buat mereka yang mengalami anemia.

Jengkol termasuk sumber pangan kontroversial. Di satu sisi, jengkol yang punya nama ilmiah Pithecolobium lobatum ini sering disebut sebagai “si biang bau” dan bisa menyebabkan keracunan. Namun di sisi lain, jengkol termasuk bahan pangan yang digemari banyak orang. Entah karena faktor baunya atau karena ada “misteri” lain yang masih belum terungkap, yang pasti jengkol sering dijadikan doping guna meningkatkan selera makan yang kendor. Bagi sebagian orang, jika sudah ditemani jengkol, makan pun jadi semangat hingga keringat pun bercucuran dengan derasnya. Apalagi jengkol muda dicoelkeun ke sambal kacang, makan pun jadi lupa berhenti.

Dalam urusan konsumsi jengkol, orang Jawa Barat menempati urutan pertama sebagai pengonsumsi jengkol tertinggi di Indonesia. Memang tidak ada data resmi di BPS untuk yang satu ini. Namun, jika data dari pasar dijadikan rujukan, kita akan mendapati angka yang cukup fantastis. Dalam satu hari saja, orang Jawa Barat bisa menghabiskan 100 ton jengkol! Data ini hanya bersumber dari satu lokasi, yakni Pasar Induk Caringin, Bandung. Bisa dibayangkan, jika jumlah jengkol dari seluruh pasar di Jawa Barat digabungkan, pasti angkanya jauh lebih besar lagi.

Jengkol biasa digunakan sebagai lalap penyedap dan penambah selera makan. Umumnya, yang dijadikan lalap adalah biji jengkol muda, meski beberapa orang lebih menyukai lalap jengkol tua dengan cara digoreng terlebih dahulu. Tak hanya dijadikan lalap, jengkol juga bisa diolah menjadi beragam jenis produk pangan berbumbu seperti semur jengkol, rendang jengkol, sambal goreng jengkol, hingga urap jengkol. Jenis makanan lainnya adalah kerupuk jengkol. Barangkali, yang belum ada hanyalah dodol atau jus jengkol.

Beragamnya pengolahan jengkol menjadi beberapa produk pangan menjadi indikasi betapa kuatnya posisi jengkol dalam daftar menu makanan sebagian masyarakat kita. Bagi sebagian orang, mengonsumsi jengkol mungkin hanya sebatas “kegemaran” yang intensitas konsumsinya terbatas, misalnya sepekan sekali. Terutama ketika selera makan sudah mulai menurun dan butuh “jamu pendongkrak selera makan”. Namun, bagi sebagian lainnya, bisa jadi, jengkol ibarat candu –meski tidak harus setiap hari mengonsumsi– mereka merasa ada yang hilang jika makan tidak “ditemani” jengkol.

Nah, biasanya, musim panen jengkol selalu ditandai dengan peningkatan jumlah konsumsi jengkol. Jika sudah demikian, siap-siap saja kita “menikmati” aroma tak sedap yang muncul dari kamar mandi, selokan dekat rumah, atau malah dari bau mulut pasangan kita.

 

loading...