Tutut, Keong Sawah Yang Gurih dan Berkhasiat

Tutut merupakan hewan bercangkang, sejenis keong, yang biasanya banyak terdapat di sawah. Masyarakat sejak lama telah memanfaatkan tutut sebagai makanan camilan atau menemani makan nasi. Tutut yang menyerupai keong dalam bentuk kecil, biasanya dibumbui dengan kunyit, kadang ditambahin santan dan berbagai bumbu lainnya.

Tutut (Bellamya spp) termasuk dalam kelompok Operculata yang hidup di perairan dangkal yang berdasar lumpur serta ditumbuhi rerumputan air, dengan aliran air yang lamban, misalnya sawah, rawa-rawa, pinggir danau dan pinggir sungai kecil. Binatang ini lebih menyukai perairan yang airnya jernih dan bersih. Ada dua jenis dari marga Bellamya yang hidup di sawah, yaitu Tutut jawa (Bellamya javanica) dengan sebaran di Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia (kecuali Irian Jaya) dan Filipina, dan Tutut sumatera (Bellamya sumatrensis) yang sebarannya mencakup Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia (Sumatera dan Jawa).

Keong suku Viviparidae ini bisa memiliki tinggi cangkang sampai 40 mm dengan diameter 15-25 mm; bentuknya seperti kerucut membulat dengan warna hijau-kecoklatan atau kuning kehijauan. Puncak cangkang agak runcing; tepi-cangkang menyiku tumpul pada yang muda; jumlah seluk 6-7, agak cembung, seluk akhir besar. Mulut membundar, tepinya bersambung, tidak melebar, umumnya hitam. Operkulum agak bundar telur, tipis, agak cekung, coklat kehitaman.

Tutut ternyata menyimpan kandungan gizi tinggi, menurut Positive Deviance Resource Centre khasiatnya ini karena tutut mengandung kandungan protein 12% , kalsium 217 mg, rendah kolesterol, 81 gram air dalam 100 gram tutut, dan sisanya mengandung energi, protein, kalsium, karbohidrat, dan phosfor.

Kandungan vitamin pada tutut cukup tinggi, dengan dominasi vitamin A, E, niacin dan folat, Jadi bayangkan khasiatnya, vitamin A untuk mata, vitamin E untuk regenerasi sel dan kecantikan kulit, niacin berperan dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi dan  folat baik untuk ibu hamil supaya bayinya tidak cacat tabung syarafnya, dan banyak lagi.

Tutut mengandung zat gizi makronutrien berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi pada tubuhnya. Berat daging satu ekor tutut dewasa dapat mencapai 4-5 gram. Selain makronutrien, tubuh tutut juga mengandung mikronutrien berupa mineral, terutama kalsium yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Dengan pengelolaan yang tepat, tutut dapat dijadikan sumber protein hewani yang bermutu dengan harga yang jauh lebih murah daripada daging sapi, kambing atau ayam.

Tutut sebagai sumber kalsium pengganti susu

Susu merupakan salah satu sumber kalsium utama, tetapi banyak dari kita yang tidak tahan meminum susu, bahkan ada yang alergi segala. Padahal susu sangat bermanfaat bagi untuk kesehatan tubuh, antara lain untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang, gigi, sistem syaraf, untuk peredaran darah, jantung, kulit dan sebagainya.

Bagi anda yang tidak suka minum susu, tutut merupakan salah satu alternatif untuk asupan kalsium anda. Ternyata tutut menyimpan potensi kalsium yang luar biasa, kalsium dalam tutut ini  kira-kira ada 217mg dalam 100gr  hampir setara dengan segelas susu, selain itu tutut juga mengandung protein, energi, karbohidrat, posfor, dll, jadi tak ada salahnya kita rajin makan tutut, harga tak seberapa tapi khasiatnya sungguh luar biasa.

Ternyata melihat dari gizi yang dikandung, tutut bisa dijadikan alternatif protein pengganti daging, ayam dll dan harganya juga relatif terjangkau. Selain itu, tutut juga dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit seperti diabetes, maag, liver, kolesterol serta berbagai penyakit lainnya.

Harus Dimasak Dengan Benar

Di luar rasanya yang enak, gurih dan berkhasiat, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tutut berperan sebagai perantara cacing Trematoda pada manusia. Secara kasat mata, tidak bisa dibedakan antara tutut yang terinfeksi cacing usus dan tutut yang bebas infeksi.

Perebusan merupakan cara yang umum digunakan untuk memasak tutut, oleh karena itu waktu memasak dan besar kecilnya api yang digunakan untuk memasak sangat berpengaruh pada bebas atau tidaknya tutut dari infeksi cacing trematoda di atas. Penelitian menunjukkan bahwa larva cacing Trematoda pada tutut akan mati jika direbus selama 20 menit menggunakan api besar, 39 menit menggunakan api sedang dan 62 menit menggunakan api kecil.

#dari berbagai sumber

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates