Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari berbagai gangguan metabolisme penyebab berbagai penyakit degenerasi dan kardiovaskuler yang mematikan. Seseorang dikatakan mengalami sindrom metabolik jika memiliki setidaknya tiga kondisi sebagai berikut: memiliki tekanan darah tinggi, kegemukan, kadar gula darah tinggi, kadar lemak darah tidak normal dan rendahnya kolesterol HDL (kolesterol "baik"). Ketika kondisi-kondisi tersebut berada pada waktu yang sama pada satu orang, maka orang tersebut memiliki resiko menderita penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes.

Faktor Resiko Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik ibarat api kecil yang siap membesar dan membakar rumah. Memang belum ada perabot dan bagian rumah yang terbakar, namun api yang kecil bisa membesar sewaktu-waktu dan membakar bagian rumah yang merupakan representasi tubuh manusia. Biasanya orang baru sadar ada yang tidak beres setelah api mulai membakar rumah. Padahal, bila mau lebih cermat, kerugian akibat kebakaran seharusnya bisa dihindari andai sejak awal kita sudah mematikan si api kecil.

Begitu pula dengan sindrom metabolik. Kebanyakan pasien baru datang setelah ada keluhan, padahal itu sudah terlambat, dalam arti sudah ada organ tubuh yang rusak dan terganggu. Seharusnya, hal itu bisa dicegah bila faktor resiko sindrom metabolik segera diketahui dan ditangani.

Orang yang didiagnosis menderita sindrom metabolik, jika paling tidak memiliki tiga dari faktor resiko berikut ini :

1. Kegemukan

Meski sindrom ini tak nyata menunjukkan tanda kehadiran, salah satu indikasi sindrom metabolik yaitu obesitas sentral berupa kegemukan di sekitar perut. Kegemukan adalah kondisi lemak tubuh berlebihan. Seseorang didiagnosis kegemukan jika berat badannya adalah lebih atau sama dengan 20% berat badan idealnya. Kegemukan menyebabkan resistensi insulin, yaituk ketidakmampuan untuk merespon insulin secara normal.

Seseorang yang sebagian besar lemak tubuhnya terdapat pada bagian perut dikenal dengan istilah memiliki bentuk badan apel (kelebihan lemak sebagian besar di daerah abdomen). Orang tersebut memiliki resiko terhadap berbagai penyakit serius yang terkait dengan sindrom metabolik.

Untuk memastikannya coba ukur lingkar pinggang Anda! Jika Anda pria dan memiliki ukuran lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter, ada kemungkinan Anda mengalami gangguan metabolik. Sementara bagi perempuan, perlu berhati-hati apabila ukuran pinggang sudah lebih dari 80 sentimeter.

2. Kadar gula darah tinggi

Gula merupakan sumber kalori dan energi bagi tubuh. Secara normal, gula yang dikonsumsi akan dikeluarkan dari darah dan disimpan sebagai energi. Jika gula tetap berada dalam darah akan menyebabkan kondisi kadar gula darah tinggi. Glukosa dalam darah akan mencapai seluruh organ tubuh dan sistem, seperti arteri jantung dan vena, ginjal, dan sistem syaraf. Seseorang dengan kadar gula darah tinggi memiliki resiko beberapa penyakit, seperti serangan jantung, stroke, kebutaan, dan amputasi. Kadar gula darah tinggi seringkali berkembang menjadi penyakit diabetes melitus (DM) tipe 2. Faktor resiko sindrom metabolik adalah ketika kadar gula darah puasa di atas 110 mg/dL.

3. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah adalah tekanan yang membantu aliran darah ke pembuluh darah. Tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah di arteri terlalu tinggi. Tekanan darah tinggi akan merusak pembuluh darah. Jika tekanan darah tinggi berlangsung dalam jangka waktu yang lama, pembuluh darah akan menebal, dan menjadi kurang fleksibel. Hal ini disebut dengan arteriosklerosis, dan dapat mempengaruhi arteri yang memberikan darah ke jantung. Faktor resiko sindrom metabolik adalah ketika tekanan darah lebih dari 130/85 mmHg.

4. Kadar kolesterol tidak normal

Kolesterol adalah jenis lemak dalam darah anda. Kolesterol dapat diproduksi oleh hati anda atau dapat juga berasal dari makanan yang anda makan. Kolesterol ditemui di seluruh sel tubuh anda. Terdapat jenis kolesterol baik dan kolesterol jahat. Terlalu banyak kolesterol jahat (trigliserida dan LDL) dan kurang kolesterol baik (HDL) dapat meningkatkan resiko penyakit jantung koroner. Trigliserida dan kadar HDL merupakan indikator penting sindrom metabolik.

5. Trigliserida tinggi

Kadar trigliserida tinggi di dalam tubuh dapat menyebabkan penimbunan lemak di arteri yang disebut dengan plag, yang menyebabkan darah yang mengandung oksigen sulit untuk mencapai jantung. Kadar trigliserida tinggi (lebih dari 150 mg/dl) meningkatkan resiko serangan jantung.

6. Kolesterol HDL rendah

Kolesterol HDL membantu menghilangkan timbunan lemak dalam pembuluh darah. Semakin banyak kadar HDL dalam darah anda, semakin baik untuk jantung anda. Ketika kadar kolesterol HDL rendah, terdapat resiko serangan jantung hingga stroke. Kadar kolesterol baik (HDL-high density lipoprotein) di bawah 40 mg/dL untuk pria dan di bawah 50 mg/dL bagi wanita.

Penyakit terkait sindrom metabolik

Seseorang yang mengalami sindrom metabolik dan tidak ditata laksana dengan benar, akan beresiko mengalami penyakit kardiovaskuler, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes melitus.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sindrom metabolik sangat erat dengan metabolisme individu, atau bagaimana tubuh memproses makanan. Secara normal, makanan diserap tubuh ke aliran darah dalam bentuk gula dan substansi dasar lainnya. Ketika kadar gula darah meningkat, pankreas (organ dibelakang lambung) melepaskan hormon insulin. Insulin berada di sel tubuh yang menyebabkan glukosa masuk dan digunakan untuk energi. Pada beberapa orang, sel tubuh tidak dapat merespon insulin (resistensi insulin). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kondisi resistensi insulin dapat berkembanga menjadi sindrom metabolik .

Tata laksana sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan penyakit yang membutuhkan tata laksana dalam jangka waktu panjang dari faktor resikonya. Penyebab utama faktor-faktor resiko tersebut adalah gizi yang tidak baik dan kurang olah raga. Dengan perubahan gaya hidup dan tata laksana termasuk pengobatan, seseorang dengan metabolik sindrom dapat menurunkan resiko komplikasi serius dari metabolik sindrom. Pengawasan teratur tentang tekanan darah, kolesterol, dan gula darah sangat penting untuk mengetahui adanya metabolik sindrom.

Jika anda kegemukan (obesitas), penurunan berat badan 5-10 persen akan membantu tubuh anda untuk meningkatkan kemampuan mengenali insulin. Peningkatan aktivitas akan mengurangi resistensi insulin. Hal itu juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol jahat, meningkatkan kadar kolesterol baik, dan mengurangi resiko penyakit diabetes tipe 2.

Berikut adalah beberapa upaya untuk menghindari sindrom metabolik:

  • Turunkan berat badan,
  • Kurangilah konsumsi lemak jenuh, kolesterol, dan asupan garam,
  • Tingkatkan pula makanan yang mengandung serat tinggi seperti sayur, biji-bijian dan buah-buahan,
  • Konsumsi makanan sehat, kaya gizi, diet rendah lemak,
  • Perbanyak aktifitas fisik, biasakan berolahraga secara rutin, bisa yang ringan-ringan saja misalnya jalan pagi selama 30 menit,
  • Hentikan kebiasaan merokok minum alkohol.


Jangan Tidur Terlalu Lama

Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa, demikian menurut sebuah abstrak penelitian yang dikutip ScienceDaily 8 Juni 2010. Kesimpulan penelitian tersebut telah  disajikan pada 8 Juni 2010, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24 Associated Professional Sleep Societies LLC.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para peserta penelitian yang melaporkan punya kebiasaan tidur sehari-hari selama delapan jam atau lebih termasuk tidur siang memiliki kemungkinan 15 persen lebih tinggi mengalami sindrom  metabolik. Hubungan ini tetap tidak berubah setelah dilakukan penyesuaian dengan faktor-faktor seperti demografi, gaya hidup, dan kebiasaan tidur.

#dari berbagai sumber