Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV. Hepatitis B hampir 100 kali lebih infeksius dibandingkan dengan virus HIV. Apabila seseorang terinfeksi dengan virus ini maka gejalanya dapat sangat ringan sampai berat sekali. Pada orang dewasa dengan infeksi akut biasanya jelas dan akan sembuh sempurna pada sebagian besar (90%) pasien. Akan tetapi pada anak-anak terutama balita, sebagian besar dari mereka penyakitnya akan berlanjut menjadi menahun.

Pencegahan dan pengobatan yang tepat dan segera akan dapat memperbaiki penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi.

Pendahuluan

Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV. Hepatitis B hampir 100 kali lebih infeksius dibandingkan dengan virus HIV. Virus ini tersebar luas di seluruh dunia dengan angka kejadian yang berbeda-beda. Angka kejadian di Indonesia mencapai 4%-30% pada orang normal, sedangkan pada penyakit hati menahun dapat ditemukan angka kejadian 20%-40%.

Apabila seseorang terinfeksi dengan virus ini maka gejalanya dapat sangat ringan sampai berat sekali. Pada orang dewasa dengan infeksi akut biasanya jelas dan akan sembuh sempurna pada sebagian besar (90%) pasien. Akan tetapi pada anak-anak terutama balita, sebagian besar dari mereka penyakitnya akan berlanjut menjadi menahun.

Gejala dan Manifestasi Klinik

Hati merupakan organ tubuh yang terbesar yang terletak pada bagian kanan atas perut tepat di bawah diafragma. Tugas dari organ ini sangat banyak termasuk mengolah nutrisi yang masuk ke dalam tubuh melalui usus, menetralisir obat-obatan, membuang dan menetralisir zat-zat yang berbahaya untuk tubuh, memproduksi empedu yang berguna untuk pencernaan lemak. Selain dari itu hati juga memproduksi kolesterol, faktor pembekuan darah dan berbagai protein terutama albumin.

Pada kebanyakan orang terutama anak-anak apabila terinfeksi hepatitis B tidak menimbulkan gejala. Gejala baru timbul apabila seseorang telah terinfeksi selama 6 minggu. Gejala yang timbul dapat berupa kehilangan nafsu makan, mual, muntah-muntah, lemas, merasa lelah, nyeri perut terutama di sekitar hati, urin berwarna gelap, kulit menjadi kuning, dan juga terlihat terutama pada mata, serta kadang-kadang pula disertai nyeri otot dan tulang-tulang.

Hepatitis B itu dapat merusak hati dan kemudian menyebar kepada orang lain meskipun sumber infeksi tersebut tidak diketahui sama sekali. Untuk hati sendiri, sangat beruntung bahwa kemampuannya untuk mengatasi kerusakan dan menyembuhkan sangat besar. Akan tetapi tentu saja apabila tidak diobati dengan sempurna, maka kerusakan berat akan dapat terjadi.

Hepatitis B Akut dan Hepatitis B Kronik

Infeksi hepatitis B dapat berupa keadaan yang akut dengan gejala yang berlangsung kurang dari 6 bulan. Apabila perjalanan penyakit berlangsung lebih dari 6 bulan maka kita sebut sebagai hepatitis kronik. Apabila perjalanan itu akut maka sistem imun tubuh akan mampu untuk menghilangkan virus dari tubuh dan kemudian pasien akan sembuh dalam beberapa bulan. Apabila sistem imum lemah atau kurang maka infeksi akan berlanjut, sehingga terjadi hepatitis kronik, sirosis dan kanker hati.

Melemahnya sistem imun dapat terjadi pada orang-orang dengan penyakit sistemik yang menahun, orang-orang dengan immunocompromise serta balita. Apabila anak-anak terinfeksi pada waktu lahir atau pada usia antara 1 dan 5 tahun maka akan terjadi penyakit hati yang kronik. Penyakit hati kronik ini kadangkala tidak diketahui sampai usia dewasa.

Cara Penyebaran

Penyakit hepatitis B dapat menyebar dengan berbagai macam cara, yaitu:
1. Transmisi vertikal, merupakan penularan dari ibu kepada anak.
2. Transmisi horizontal. Transmisi horizontal antara lain terjadi pada transfusi, pemakaian alat suntik yang tidak steril, hubungan seksualnya yang tidak aman, tato dan pemakaian alat-alat kedokteran yang tidak steril.

Penularan dapat terjadi apabila zat yang terinfeksi seperti darah, semen, sekresi vagina atau mulut memasuki tubuh melalui permukaan. Kontak yang biasa seperti misalnya berpegangan tangan, berciuman, bersin, alat-alat rumah tangga, air mata, keringat, telepon tidak akan dapat menularkan hepatitis B ini.

Faktor Risiko

Setiap orang tidak tergantung kepada umur, ras, kebangsaan, jenis kelamin dapat terinfeksi hepatitis B, akan tetapi risiko terbesar adalah apabila:
1. Mempunyai hubungan kelamin yang tidak aman dengan orang yang sudah terinfeksi hepatitis B.
2. Memakai jarum suntik secara bergantian terutama kepada penyalahgunaan obat suntik.
3. Menggunakan alat-alat yang biasa melukai bersama-sama dengan penderita hepatitis B. Orang yang bekerja pada tempat-tempat yang terpapar dengan darah manusia.
4. Orang yang pernah mendapat transfusi darah sebelum dilakukan pemilahan terhadap donor.
5. Penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisis.
6. Anak yang dilahirkan oleh ibu yang menderita hepatitis B.
7. Orang-orang yang tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang menderita hepatitis B.

Yang sering pula terjadi adalah orang tidak mengetahui sebenarnya kapan mereka terkena hepatitis B.

Diagnosis

Oleh karena penderita hepatitis B seringkali tanpa gejala maka diagnosis seringkali hanya bisa ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium. Kadangkala baru dapat diketahui pada waktu menjalani pemeriksaan rutin atau untuk pemeriksaan dengan penyakit-penyakit yang lain.

Tes laboratorium yang dipakai untuk menegakkan diagnosis adalah:
1. HBsAg. Apabila tes ini positif berarti menandakan bahwa orang tersebut terinfeksi hepatitis B.
2. Anti-HBs. Tes ini apabila positif menandakan bahwa seseorang itu pernah menderita hepatitis B dan sudah sembuh atau pernah diimunisasi untuk hepatitis B.
3. Anti-HBc. Apabila tes ini positif bahwa orang tersebut menderita hepatitis B kronik. Akan tetapi bila nilainya rendah masih bisa meragukan.
4. HBeAg. Apabila tes ini positif menandakan bahwa hepatitis virusnya sangat infeksius. Bila seorang ibu yang hamil mempunyai HbAg positif kemungkinan penularan sangat besar untuk anaknya.
5. Anti-HBe. Apabila tes ini positif dapat berarti bahwa replikasi virus pada pasien tersebut sudah sangat kecil sekali dan kemungkinan penularan juga akan sangat berkurang dan penyakit mengalami remisi. Akan tetapi apabila anti HBe positif sedangkan HBV-DNA (hepatitis B-deoxyribonucleic acid) masih positif berarti virus hepatitis B mengalami mutan dan penyakit masih berjalan terus.
6. IgM anti-HBc. Apabila positif menandakan penyakitnya akut atau terjadi eksaserbasi akut hepatitis B.
7. HBV-DNA. Apabila positif menandakan bahwa penyakitnya aktif dan terjadi replikasi virus. Makin tinggi titer HBV-DNA kemungkinan perburukan penyakit semakin besar.
8. Faal hati. SGOT dan SGPT dapat merupakan tanda bahwa penyakit hepatitis B-nya aktif dan memerlukan pengobatan anti virus.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pencitraan seperti USG (ultrasonografi), CT (computed tomography) scan ataupun MRI (magnetic resonance imaging). Biopsi hati dapat dilakukan pada penderita untuk memonitor apakah pasien calon yang baik untuk diterapi antivirus dan untuk menilai keberhasilan terapi.

Komplikasi

Apabila penyakit memburuk akan bisa ditemukan gangguan hati yang serius, seperti sirosis dan kanker hati. Pada pasien sirosis dapat ditemukan gejala rambut rontok, mata menjadi kuning, ginekomastia, spider nevi, asites, kolateral, kaput Medusa, splenomegali, eritema palmaris, edema, jari tambur, petekie, varises esofagus, hemoroid.

Komplikasi berat dapat berupa perdarahan akibat varises pecah, ensefalopati hepatik.

Terapi

Apabila seorang pasien memperlihatkan gejala infeksi hepatitis aktif, maka diberikan terapi. Gejala aktif bisa terlihat dengan peninggian SGOT dan SGPT umumnya 2 kali di atas angka normal dan pemeriksaan histopatologi hati. Untuk beberapa obat peninggian SGPT 2 kali di atas angka normal dapat digunakan sebagai prediksi keberhasilan terapi.

Akan tetapi ada juga obat antivirus yang mempunyai efek baik pada penderita yang mengalami peningkatan SGPT 1,3 kali di atas angka normal.

Obat yang lazim dipakai adalah:
1. Nukleosida analog
2. Interferon alfa
3. Terapi alternatif

Nukleosida analog dan interferon alfa merupakan obat-obat antivirus yang dapat menurunkan derajat infeksi, mengurangi kemungkinan terjadinya sirosis dan kanker hati. Terapi alternatif dapat berguna untuk mengurangi derajat infeksi sehingga dapat mengurangi pula progresivitas.

Nukleosida analog yang berada di pasaran adalah:
1. Lamivudin (3TC). Dosis yang diberikan 100 mg/per hari.
2. Adefovir (Hepsera). Dosis yang diberikan adalah 10 mg / per hari.
3. Enfecavir (Baraclude). Dosis yang diberikan adalah 0,5 mg/per hari.

Untuk pengobatan dengan mempergunakan interferon dapat digunakan pegilated-interferon dengan hasil yang memuaskan. Obat alternatif yang mempunyai evidence adalah antara lain Stronger Neo-Minophagen C (SNMC®), HpPro dan Hepasil. SNMC® juga sudah terbukti dapat memperbaiki gambaran istopatologis penderita hepatitis B.

Kesimpulan

Hepatitis B merupakan penyakit infeksi virus yang menyerang hati dan apabila tidak diatasi dengan sempurna akan dapat menyebabkan kerusakan hati dengan komplikasi sirosis hati dan kanker hati. Pencegahan dan pengobatan yang tepat dan segera akan dapat memperbaiki penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi.

Daftar Pustaka
1. Tiolis P, et al. The hepatitis B virus. Nature 1985; 317:489
2. Sulaiman HA, et al. Prevalence of hepatitis B and C in healthy Indonesian blood donors. Trans Royal Soc Tropical Med Hygiene 1995; 89:167-70
3. Akbar N, et al. Ethnicity, socioeconomic status, transfusion and risk of hepatitis B and hepatitis C infection. J Gastroenterol - Hepatol 1997; 12:752-7
4. Sherlock S. Hepatitis B virus and hepatitis delta virus. In: Disease of Liver and Biliary System. Blackwell Publishing Company; 2002.p.285-96

Nurul Akbar
Divisi Hepatologi
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM

DEXA MEDIA

loading...