Healthy Articles

Toksisitas Zat Kimia Terhadap Sistem Reproduksi

Toksisitas reproduktif mencakup efek-efek yang merugikan fungsi seksual dan fertilitas kaum laki-laki dan perempuan sekaligus efek yang mengganggu perkembangan normal baik sebelum maupun sesudah lahir (juga disebut toksisitas perkembangan).

Fisiologis sistem reproduksi antara pria dan wanita berbeda, tetapi sistem pada kedua jenis kelamin tersebut dikendalikan oleh suatu zat kimia yang disebut hormon. Hormon adalah zat kimia yang disekresi oleh kelenjar dalam tubuh dan mengendalikan sel-sel lain dalam tubuh. Sekresi hormon dikendalikan oleh sistem saraf pusat (SSP).

Pada laki-laki, hormon mengendalikan perkembangan organ-organ reproduksi dan pembentukan sperma (spermatogenesis). Pada perempuan, hormon mengendalikan organ-organ reproduksi, siklus reproduktif perempuan, persiapan rahim untuk kehamilan dan laktasi. Hormon juga memainkan peranan yang sangat penting dalam kehamilan dan perkembangan janin.

Dalam kondisi normal, pada manusia, diperkirakan satu dari lima pasangan tidak dapat memiliki anak (mandul), lebih dari sepertiga embrio akan mengalami kematian dini, dan sekitar 15% kehamilan akan mengalami abortus spontan. Di antara bayi-bayi yang baru lahir, sekitar 3%-nya mengalami kecacatan.

Ini tidak mengejutkan karena banyak zat kimia (atau obat-obatan) yang dapat mengganggu jalannya beberapa proses biologis dalam sistem reproduksi laki-laki dan perempuan. Ada tiga target utama dari toksikan reproduktif. Toksikan tersebut dapat bekerja langsung di sistem saraf pusat untuk mengubah sekresi hormon (misalnya sintesis steroid).

Gonad (ovarium dan testis) juga menjadi target dari obat-obatan dan zat kimia, terutama obat kemoterapi kanker. Toksikan reproduktif juga dapat menghambat atau mengubah spermatogenesis. Akibat yang ditimbulkan oleh efek toksik tersebut antara lain kemandulan, penurunan kesuburan, meningkatnya kematian janin, meningkatnya kematian bayi, dan meningkatnya angka cacat / defek lahir. Zat kimia yang menyebabkan peningkatan kasus defek / cacat lahir ini disebut teratogen.

Efek buruk perkembangan pada organisme muncul akibat pemaparan sebelum pembuahan (pada orang tua), selama kehamilan, atau dari lahir sampai saatnya maturasi seksual. Efek buruk perkembangan dapat dideteksi kapan saja dalam rentang kehidupan suatu organisme. Manifestasi pokok dari toksisitas perkembangan mencakup:
a. kematian organisme yang sedang berkembang;
b. abnormalitas struktural;
c. perubahan pertumbuhan, dan
d. defisiensi fungsional.

Paparan terhadap zat kimia selama kehamilan dapat mengakibatkan perkembangan yang defektif (menuju kecacatan). Pada waktu-waktu tertentu, janin yang sedang tumbuh dan berkembang menjadi sangat sensitif terhadap paparan zat kimia toksik, misalnya saat perkembangan sistem organ atau perkembangan sel-sel jenis tertentu. Pada manusia, fase kritis induksi malformasi struktural biasanya terjadi 20-70 hari setelah pembuahan.

Dampak zat kimia (atau obat-obatan) terhadap sistem reproduksi dapat dilihat pada insidensi talidomid yang tragis di tahun 1960-an. Saat itu, talidomid diberikan pada ibu hamil sebagai obat mual. Obat ini memang tidak memiliki efek yang merugikan orang dewasa, tetapi sifatnya yang teratogen justru mengganggu perkembangan anggota gerak janin. Akibatnya, anak yang ibunya mengonsumsi obat tersebut ketika hamil, lahir tanpa lengan dan / atau kaki atau bahkan sangat tidak berbentuk.

Untuk beberapa zat kimia, studi epidemiologis, data pemaparan okupasional, atau data yang berasal dari penelitian pada binatang memperlihatkan adanya hubungan antara pemaparan dengan efek buruk pada sistem reproduksi.

Beberapa penelitian di bidang epidemiologi memperlihatkan bahwa arsenik anorganik dapat menimbulkan efek perkembangan pada manusia, janin yang sedang berkembang sangat sensitif terhadap metil merkuri, paparan timbal terhadap ibu hamil terbukti dapat mengganggu perkembangan mental anak-anak mereka.

Daftar efek yang merugikan sistem reproduksi semakin bertambah panjang, dan semakin banyak indikasi yang memperlihatkan bahwa ibu hamil, janin, bayi yang masih menyusui, dan anak kecil termasuk dalam kelompok berisiko tinggi yang lebih rentan terhadap efek buruk zat kimia daripada populasi umum lainnya.

Bayi dan anak kecil memiliki karaktersistik struktural dan fungsional yang berbeda dengan anak yang lebih tua serta orang dewasa. Karakteristik tersebut mewakili tahapan di dalam perkembangan dan pertumbuhan yang normal, dan dapat mempengaruhi daya tahan mereka jika terpapar zat kimia.

Secara umum dapat dikatakan bahwa zat kimia baik yang organik maupun yang anorganik lebih mudah diabsorpsi oleh bayi daripada oleh orang dewasa. Bayi belum siap melakukan biotransformasi terhadap zat kimia karena ginjal belum matur dan kurang dapat mengekskresikan zat kimia dibandingkan ginjal orang dewasa.

Dengan demikian, dosis yang sama dari suatu zat kimia per unit berat badan kemungkinan akan lebih banyak berakumulasi dalam tubuh bayi daripada dalam tubuh anak yang lebih besar atau orang dewasa sehingga kemungkinannya untuk mengalami efek toksik lebih besar.

Semua karakteristik tersebut menunjukkan adanya kebutuhan khusus untuk melindungi kelompok populasi yang sensitif ini dari semua resiko kesehatan akibat pemaparan terhadap zat kimia.

Tabel toksikan lingkungan dan efek buruknya pada sistem reproduksi:

  • Aldrin: abortus spontan, persalinan dini
  • Arsenik: abortus spontan, berat badan lahir rendah
  • Benzene: abortus spontan, berat badan lahir rendah, gangguan menstruasi
  • Kadmium: berat badan lahir rendah
  • Karbon disulfida: gangguan menstruasi, efek buruk pada sperma
  • Senyawa chlorinated: defek pada mata, telinga, dan bibir sumbing, gangguan sistem saraf pusat, kematian perinatal, leukemia masa kanak-kanak.
  • 1,2-Dibromo-3-kloropropan: efek buruk pada sperma, kemandulan
  • Dikloroetilen: penyakit jantung bawaan
  • Dieldrin: kelahiran dini, abortus spontan
  • Heksaklorosikloheksan: ketidakseimbangan hormonal, kelahiran dini, abortus spontan
  • Timbal: lahir mati, berat badan lahir rendah, abortus spontan, defisit neurobehavioral, perkembangan terhambat, kerusakan otak.
  • Merkuri: gangguan menstruasi, abortus spontan, buta tuli, keterbelakangan mental, pertumbuhan terhambat, kerusakan otak.
  • Hidrokarbon aromatik polisiklik: penurunan kesuburan
  • Polychlorinated byphenil: persalinan kurang bulan, berat badan lahir rendah, penurunan lingkar kepala, defisiensi pertumbuhan, efek neurobehavioral.
  • Trikloroetilen: penyakit jantung bawaan.

 

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates