Anak di lapas / rutan adalah anak yang sedang menjalani proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani hukuman pidana di rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan.

Menurut Ditjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM RI, pada tahun 2009 jumlah anak didik pemasyarakatan sebanyak 3.197 anak yang terdiri dari 2.842 laki-laki dan 355 perempuan. Terdapat sebanyak 1.610 anak yang menjalani pembinaan di 16 lapas anak yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Sisanya berada di lapas orang dewasa.

Anak yang berada di lapas atau rutan pelu mendapat perlindungan akan kesehatannya, karena hal ini merupakan amanat undang-undang. Berikut dasar hukumnya:

  • Undang–Undang No. 4 Tahun 1974 tentang Kesejahteraan Anak yang menegaskan bahwa kesejahteraan ditujukan kepada semua anak, termasuk anak didik pemasyarakatan.
  • Undang–Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang menegaskan hak dan kewajiban narapidana, termasuk anak didik pemasyarakatan.
  • Undang–Undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, yang menegaskan hak asasi manusia, termasuk juga anak di lembaga pemasyarakatan.
  • Undang–Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menegaskan bahwa semua anak mempunyai hak untuk kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, pelindungan dari kekerasan dan diskriminasi serta hak untuk didengar pendapatnya.
  • Undang–Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan anak harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial, ekonomis, dan bermartabat.


Berikut adalah istilah-istilah yang sering berhubungan dengan anak di lapas / rutan:

  • Anak pidana, yakni anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di lapas anak, paling lama sampai berumur 18 tahun.
  • Anak negara, yakni anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan kepada negara untuk dididik dan ditempatkan di lapas anak, paling lama sampai berumur 18 tahun.
  • Anak sipil, yakni anak yang atas permintaan orang tua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di lapas anak, paling lama sampai berumur 18 tahun.
  • Tahanan anak, yakni tersangka atau terdakwa anak yang ditempatkan di rutan untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan.


Berbagai masalah kesehatan dapat menimpa anak yang berada di lapas atau rutan, antara lain:

  • Kebersihan perorangan yang kurang.
  • Kebersihan lingkungan yang tidak memadai.
  • Asupan gizi makanan yang belum memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak.
  • Rawan terjadi perilaku seksual yang menyimpang.
  • Penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (NAPZA).


Berbagai masalah di atas akan berdampak buruk bagi kesehatan si anak, antara lain dapat menimbulkan resiko terserangnya penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Berikut adalah penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat dialami anak dalam lapas atau rutan:

  • Timbulnya berbagai jenis penyakit menular, terutama:
    • penyakit kulit seperti kudis dan gatal-gatal;
    • batuk pilek;
    • TBC;
    • diare;
    • penyakit kelamin.
  • Timbulnya gangguan perilaku berupa gangguan tidur, depresi/tertekan, dan cenderung menyerang (agresif).
  • Terganggunya pertumbuhan dan perkembangan anak.
  • Kurangnya asupan gizi yang mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit.
  • Timbulnya kekerasan fisik, emosional, ataupun seksual.
  • Risiko tertularnya HIV/AIDS lebih tinggi pada pemakai NAPZA suntik akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian.


Untuk melindungi kesehatan anak dalam lapas / rutan diperlukan peran serta berbagai pihak, antara lain:

  • Keluarga hendaknya tetap menerima anak dan memperlakukan sebagai anak pada umumnya.
  • Masyarakat terutama petugas lapas / rutan memberi dukungan agar anak di lapas / rutan memperoleh perlakuan dan pelayanan yang diperlukan seperti pelayanan kesehatan bagi anak yang sakit.
  • Masyarakat terutama keluarga anak di lapas/ rutan harus memberi dukungan agar anak terhindar dari pengaruh buruk di lingkungan lapas/ rutan seperti pemakaian NAPZA dan perilaku seks menyimpang.
  • Petugas kesehatan dan petugas lapas / rutan dapat memberi dukungan kepada anak di lapas / rutan agar anak dapat berperan di bidang kesehatan, seperti juru pemantau jentik (jumantik) dan konselor sebaya.
  • Masyarakat diharapkan tidak mengucilkan anak yang bebas dari lapas dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menjalani hidup yang layak.


Anak harus mendapatkan layanan untuk berbagai aspek kesehatannya. Pelayanan kesehatan apa sajakah yang dibutuhkan oleh anak di lapas / rutan? Berikut diantaranya:

  • Anak yang sakit berhak memperoleh pelayanan kesehatan dasar di poliklinik lapas atau puskesmas.
  • Anak yang membutuhkan perawatan kesehatan lebih lanjut berhak dirujuk ke rumah sakit atau dokter spesialis.
  • Anak di lapas / rutan berhak memperoleh informasi kesehatan seperti kesehatan diri, kesehatan reproduksi, bahaya rokok, penyalahgunaan NAPZA, dan seks bebas.
  • Anak di lapas / rutan berhak mendapat jaminan pemeliharaan kesehatan (jamkesmas atau jamkesda setempat) untuk memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit.


Pesan Kesehatan

  • Ciptakan kebersihan lingkungan lapas yang ramah anak.
  • Bekali anak di lapas / rutan dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja, NAPZA, HIV/AIDS, dan kesehatan diri.
  • Libatkan anak di lapas / rutan untuk berperan menciptakan lingkungan lapas / rutan yang sehat.


#depkes

loading...