Anak-anak

Masalah Tawuran pada Anak Sekolah

Tawuran adalah kegiatan “sampingan” pelajar, yang beraninya hanya kalau bergerombol / berkelompok dan sama sekali tidak ada gunanya, bahkan dapat dibilang merupakan tindakan pengecut.

1. Penyebab, antara lain :

  • Iseng, bosan, jenuh;
  • Tekanan kelompok dalam bentuk solidaritas;
  • Peran negatif BASIS (Barisan Siswa) di luar sistem sekolah;
  • Warisan dendam / musuh, menguji kekebalan;
  • Kaderisasi bekas siswa yang drop out (putus sekolah);
  • Kurang komunikasi orang tua, anak dan sekolah;
  • Kesenjangan sosial ekonomi; lingkungan sekolah belum bersabat dengan remaja;
  • Tidak tersedianya sarana / prasarana penyaluran agresifitas;
  • Lingkungan yang tidak kondusif bagi perkembangan keperibadian sehat;
  • Pengaruh media masa (cetak dan elektronik) yang memberitakan dan menayangkan kekerasan dan agresifitas;
  • Penggunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya).


2. Pengenalan

Tawuran biasanya terjadi pada:

  • hari-hari tertentu (hari ulang tahun sekolah);
  • adanya konsentrasi masa siswa di halte bus / dalam bus, di tempat nongkrong lain;
  • adanya siswa membawa senjata, payung ataupun batu.
  • frekuensi tawuran meningkat pada saat : tahun ajaran baru, dan saat menjelang liburan sekolah atau setelah ulangan umum, dan cenderung rendah atau tidak terjadi pada bulan puasa sampai lebaran.


Ciri-ciri remaja / siswa yang rentan terhadap tawuran, adalah siswa yang:

  • punya ego dan harga diri tinggi, sehingga mudah merespon terhadap ejekan,
  • bermasalah dari rumah dan lingkungan,
  • mudah bosan, tegang / stres,
  • hidup dengan kondisi kemiskinan,
  • menggunakan NAPZA.


3. Penatalaksanaan

  • Memasukan kembali mata pelajaran budi pekerti yang selaras dengan norma-norma agama dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Umum / Khusus.
  • Meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler.
  • Memberdayakan guru bimbingan penyuluhan / bimbingan konseling dan lembaga konseling laingnya.
  • Mengusulkan kepada pemda agar menyediakan transportasi khusus anak sekolah.
  • Melakukan kajian ilmiah / penelitian terjadinya tawuran.
  • Meningkatkan kepedulian masyarakat untuk mencegah terjadinya tawuran sebagai bagian dari pencegahan kekerasan di masyarakat.
  • Pengawasan ketat media yang menyajikan adegan kekerasan.
  • Meningkatkan keamanan terpadu antara sekolah, kepolisian dan masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya tawuran anak sekolah.
  • Dialog interaktif antara siswa, guru dan orang tua serta pemerintah.
  • Sosialisasi bahaya tawuran kepada siswa, guru orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat melalui tatap muka, media cetak dan media elektronik.


4. Pencegahan

Upaya pencegahan masalah tawuran dapat dilakukan melalui :

Peran Orangtua

  • Menanamkan pola asuh anak sejak prenatal dan balita,
  • Membekali anak dengan dasar moral dan agama,
  • Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orang tua-anak,
  • Menjalin kerja sama yang baik dengan guru, misalnya melalui pembentukan Forum Perwakilan, BP3 dan penyediaan ruang khusus untuk BP3.
  • Menjadi tokoh panutan bagi anak tentang perilaku dan lingkungan sehat,
  • Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak,
  • Hindari dari NAPZA (Narkotika,Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya).


Peran Guru

  • Ber”sahabat” dengan siswa.
  • Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman.
  • Memberikan keleluasan siswa mengekpresikan diri pada kegiatan ekstrkurikuler.
  • Menyediakan sarana dan prasarana bermain serta olahraga.
  • Meningkatkan peran dan pemberdadayaan guru BP.
  • Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas.
  • Meningkatkan kerjasama dengan orang tua guru, sekolah lain.
  • Meningkatkan keamanan terpadu sekolah, bekerja sama dengan kepolisian setempat.
  • Mewaspadai adanya provokator.
  • Mengadakan kompetisi sehat seni budaya dan olah raga antar sekolah.
  • Mengadakan class meeting melalui komppetisi sehat seni-budaya dan olah raga inter dan antar sekolah pada saat selesai ujian dan menjelang terima rapor.
  • Menciptakan kondisa sekolah yang memungkinkan anak berkembang keperibadiannya secara sehat spiritual, mental, fisik, sosial.
  • Meningkatkan deteksi dini penanggulangan penyalahgunaan NAPZA.


Peran Pemerintah dan Masyarakat

  • Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti,
  • Menyediakan sarana / prasarana untuk menyalurkan agresifitas anak melalui olah raga dan bermain,
  • Menegakkan hukum, sanksi dan disiplin yang tegas,
  • Memberikan keteladanan, hentikan pertikaian,
  • Menanggulangi NAPZA, terapkan peraturan dan hukumnya,
  • Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan atau pusat hiburan.


Peran Media

  • Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesuai tingkat usia),
  • Sampaikan berita dengan kalimat yang benar dan tepat (tidak provokatif),
  • Rubrik khusus media masa (cetak, elektronik) bagi remaja dan pendidikan yang bebas biaya.


#sumber: ebooks

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates